Tuesday, July 1, 2014



Suasana tak terduga mempertemukan kita dengan rona memerah di muka. Sekian lama tertanggung hasrat hendak berkasih namun jarak tak bisa ramah. Padahal, erat hati memegang janji. Terbukti, ketika badai menampar perih masih saja aku yang kaujadikan pegangan.

Begitulah, aku yang di sini tak pernah jera dan lelah mengenangmu meski dalam satu kerjapan mata. Terkapar dibantai kenangan lalu, hingga tak sadar musim telahpun berubah. Pada sebuah angan bergantung keniscahyaan. 

Tatap bening dengan sebuah kristal tergulir,  menjadikanku pesakitan di kursi terdakwa. Gagu dan gugup hingga hanya bisa tertunduk pasrah menunggu penjatuhan hukuman. Saksiku hanya hati, angin, alam dan rembulan. Dimana adanya kakiku perpijak, disetiap mana helaan nafas, hanya ada satu rupa, tak tergantikan. Lekat hinggpun kini.

Isak tertahan sungguh seakan luka yang ditaburi garam. Entah kemana raibnya keangkuhan yang begitu kupertahankan. luruh, runtuh, bergemuruh...

Adalah suasana tak terduga yang mempertemukan kita dalam larut tak berkesudahan. Sebentar tadi, sekilas, secuil senyum mengembang, sebuah pertanda, agar kurengkuh engkau dalam pelukan...

Sanggau, 17/08/1993

Posted by By Buchex
Categories: Labels: ,

 

1 comments:

Aba Enim said...

Sekedar test koment

Search This Blog

Background

Aba Enim Blog. Powered by Blogger.
 
>